Bawang Hitam Dan Bawang Putih

Black GarlicIni adalah kisah klasik….Sepasang anak kembar sejenis bernama Bawang Hitam dan Bawang Putih. Seperti anak kembar sejenis kebanyakan, mereka kompak dan seragam. Pakai baju seragam, sepatu, kaos kaki juga seragam yang sama persis. Juga pita rambut, bando dan juga tas sekolah. Pada saat umur mereka 5 tahun, mereka diajak orang tuanya untuk melihat pertunjukan musik, sebuah orkestra yang sangat menarik. Yang menonjol dari itu semua adalah permainan pianonya. Sepanjang perjalanan pulang dari pertunjukan orkestra, si kembar ingin memiliki piano.

Selang beberapa bulan kemudian pada saat mereka ulang tahun, orangtuanya membelikan sepasang piano untuk hadiah ulang tahun mereka yang ke 6. Seperti biasa, mereka memiliki piano yang sama, sepasang piano kembar. Bawang merah mengucapkan “terimakasih Ayah, Ibu…Hitam cinta Papa dan Mama”. Demikian juga Bawang Putih,…sebagai anak yang dididik orang tuanya untuk selalu mengucapkan terimakasih, maka si bawang putihpun berucap “Trimakasih Papa dan Mama…Putih sayag sama Papa dan Mama”. Saat menjelang tidur sepasang anak kembar ini juga tidak lupa mengucapkan syukur kepada Tuhan atas hadiah piano yang sangat cantik yang mereka dapatkan tadi siang. “Saya bersyukur kepadamu Tuhan atas anugrahmu berupa piano yang cantik ini” demikianlah kurang lebih ucapak syukur keduanya.

Waktu berjalan, bulan berganti kedua anak itu selalu mengucapkan syukur atas piano yang mereka dapat. Bawang Hitam juga selalu bangga dan menceritakan kepada teman-teman di sekolah dan juga tetangganya. Dalam ceritanya dia selalu bilang saya anak yang beruntung untuk itu saya selalu mengucap syukur dan terimakasih kepada Tuhan dan orang tua. Sebagai ucapan syukur dan terimakasihnya Bawang Putih selalu membersihkan pianonya, mengelap dan mengupayakan agar selalu kelihatan bersih dan terawat. Sesekali Bawang Hitam memainkan piano sebisanya.

Apa yang dilakukan Bawang Putih juga sama, dia merawat pianonya dengan baik juga. Menceritakan kepada teman dan siapa saja yang dijumpainya dengan rasa syukur dan terimakasih. Bawang Putih juga memainkan pianonya sebisanya.

Setelah satu tahun, orangtua mereka mengundang guru piano untuk mengajari keduanya bermain piano agar mereka dapat memainkan piano dengan baik. Dariwaktu-kewaktu mereka sama-sama belajar piano, namun ada perbedaan si Bawang Hitam tampak tidak sungguh-sungguh belajar, dia lebih berkonsentrasi pada membersihkan pianonya. Setiap sebelum dan sehabis pianonya disentuh orang dia selalu sibuk untuk membersihkanya. Bahkan saking sayangnya setiap bangun tidur dan sebelum tidur selalu membersihkan pianonya, sehingga pianonya terawat sangat baik. Bawang Hitam lebih banyak menghabiskan waktu untuk membersihkan pianonya dibanding memainkanya.

Apa yang dilakukan Bawang Putih? Dia sangat semangat dan mencurahkan perhatian penuh ketika di ajari bermain piano oleh gurunya. Bahkan dia berusaha lebih keras dan lebih keras lagi dengan melatih dan memainkanya setiap punya waktu. Dia juga terus berlatih pada saat ada maupun meskipun tidak ada gurunya. Setiap menemukan kesulitan dia berusaha mencari solusi dan berusaha lebih dengan bertanya kepada orang-orang yang sudah mahir. Setelah remaja, dia juga sering pergi melihat pertunjukan-pertunjukan musik dan setelah selesai pertunjukan dia selalu menemui sang pianis untuk mendapatkan tip-tip bermain piano dengan baik. Saking fokus dan seriusnya melatih diri bermain dan juga mencari nasihat-nasihat maupun membaca buku-buku tentang piano dan music, sering dia mengorbankan zona kenyamananya. Bahkan dia menabung dari uang jajannya untuk mendapatkan les tambahan diluar rumah yang diberikan gurunya di rumah, maka dia juga kurang memiliki waktu untuk membersihkan pianonya setiap hari, Yang dapat dia lakukan hanya bisa membersihkan pianonya 2 hari atau 3 hari sekali. Dia juga tidak serajin Bawang Hitam untuk bercerita kepada teman-temanya tentang pianonya dan ucapan syukur atas memilikinya.

Bulan berganti tahun dan tahun pun terus bergulir…mereka berdua melakukan kegiatan-kegiatan itu tahun demi tahun. Bawang Putih banyak menghabiskan waktu membersihkan, bercerita dan sesekali saja berlatih. Sedangkan Bawang Putih rajin melatih diri bermain piano, mencari referensi tip-tip sukses dari pianis-pianis ahli, dan ikut kelas training piano tambahan. Hanya sesekali saja membersihkan pianonya dan bercerita ke teman-temanya. Dia lebih banyak menghabiskan waktu berlatih, training dan berlatih. Maka tidak heran jika piano pembelian orang tuanya menjadi kurang terawat dibanding milik Bawang Hitam. Kalah mengkilap dan bersih…sudah agak suram.

Sepuluh tahun sudah berlalu…Bawang Putih menjadi bintang sekolahnya, dapat bermain piano dengan mahir, tidak hanya beberapa lagu namun ratusan lagu dia bisa mainkan dengan luar biasa. Menjadi andalan sekolah untuk mengisi pertunjukan-pertunjukan di sekolahnya. Bahkan dia juga sering pentas bergabung dengan pentas-pentas musik yang menarik banyak orang karena kemahiran permainan pianonya. Banyak orang merasa terhibur dengan permainan pianonya. Dari sini dia dapat membeli piano yang lebih bagus lagi dari yang sekarang dia miliki.

Sedangkan Bawang Hitam tetap rajin bersyukur dan membersihkan pianonya. Sehingga pianonya awet dan selalu kelihatan bersih. Sesekali dia memainkan pianonya di rumah dengan lagu-lagu yang tidak banyak ragamnya.

Demikianlah bentuk rasa syukur itu, ada dua bentuk rasa syukur atas potensi yang diberikanNya kepada kita. Yaitu bersyukur pasif seperti apa yang dilakukan Bawang Hitam dan bersyukur aktif seperti yang dilakukan oleh Bawang Putih. Setiap kita diberikan potensi yang khusus yang pasti diberikanNya kepada kita masig-masing. Jika Anda ingin bersyukur, tindakan bersyukur yang manakah yang ingin Anda lakukan? Bersyukur Pasif atau Aktif?

Apakah sudah memanfaatkan potensi yang ada sepenuh daya dan upaya?

Kira-kira jika Anda menjadi orang tua mereka dalam cerita di atas. Akan lebih senang hasil siapa? Bawang Hitam? Atukah Bawang Putih? Saya hanya menduga, jika Anda lebih senang hasil yang dicapai Bawang Putih. Sepertinya demikian juga dengan Pencipta Anda,lebih senang Anda melakukan syukur seperti Bawang Putih bukan?. Selamat Bersyukur.

 

 

Ir.Ery Prasetyawan, PMP, SI CPM, M Par.

Trainer, Consultant, Business Coach

https://www.facebook.com/ery.prasetyawan.8

Hp: +62811904262

BB:53CB3B0D.

Email:eryp2000@gmail.com

www.eryprasetyawan.com

Tentang Penulis:

  • Pernah bekerja sebagai senior manajer di perusahaan multinasional selama lebih dari 17 tahun.
  • Pemilik Bisnis dan Komisaris Perusahaan.
  • Pemilik Toko Buku Online fromdebttomillionaire.com dan www.i-ebookstore.com
  • Mengembangkan dan mendirikan Human Resources Empowerment Center: hr-empowerment.com .
  • Master Trainer, Consultant Dan Business Coach.

International Certified Business Coach, Las Vegas, USA and Project Management Professional (PMP), Pensylvania, USA.

  • Penulis Buku “From Debth To Millionaire” Dan “ 6 Ways To Become World Class Project Manager”.
  • Master Trainer di beberapa perusahaan Multinational dan Nasional. PT. Ericsson Indonesia, Ericsson Singapore, Ericsson Thailand, Ericsson Malaysia, PT. Telkomsel, PT. Pertamina, PT. Semen Padang, PT. Tunas Jaya Sanur, Departemen Pertaninan RI, dll

Koki Juara

Chef Champion

Halo Semua….Apa Kabar?

Sewaktu masih kecil dikota kecil tempat saya dibesarkan ada warung mie Jowo yang ramai sekali. Kepemilikan warung itu sudah turun-temurun dari generasi ke generasi, pada waktu saya masih kecil yang berjualan adalah generasi pertama. Saat ini warung itu masih ramai sekali dan yang berjualan adalah sudah generasi ke 3. Menu yang disajikan tidak banyak sebenarnya, hanya Mie goreng, Mie Rebus dan Nasi Goreng…namun yang beli sampai mengantri panjang. Kemudian apa kunci mengapa warung ini ramai? Padahal juga ada beberapa warung mie Jowo tidak jauh dari lokasi itu. Ada yang bilang karena masakanya enak karena dimasaknya pakai arang dan masaknya satu-satu porsi tidak bisa beberapa porsi sekali masak.

Ternyata bukan itu faktor utama dari ramainya pengunjung ke warung itu. Karena pesaingnya juga memakai cara memasak yang sama. Apakah karena rasanya yang enak dan standar? Bukan juga, malah sebaliknya. Ternyata di warung ini rasanya tidak standar alias tergantung situasi. Apakah situasi itu kebetulan tergantung mood kokinya atau disengaja? Nah…ini pertanyaan yang hebat. Dari waktu kecil saya amati…jika saya datang bersama orangtua dan saudara-saudara saya, karena sudah langganan. Anehnya walaupun pesanan kami ada yang sama, misalnya saya dan ayah saya memesan sama-sama mie goreng. Si koki waktu menyajikan dan menyodorkan sepiring mie goreng selalu bilang…”ini buat bapaknya…yang ini buat si thole” sambil menaruh sepiring mie goreng di depan saya.

Saya terus mengamati penyajian kepada pelanggan-pelanggan lain….pada waktu itu ada sekeluarga datang ada sang kakeknya juga. Jadi pasangan muda dengan anak sebaya saya kelas 3-4 SD beserta kakkn anak itu, berarti ada 3 generasi, anak-bapak dan kakek. Sama juga pada waktu menyajikan walaupun ketiga generasi berbeda itu memesan sama yaitu mie rebus. Pada saat penyajian, sang koki, menyodoran piring mie nya sambil berkata, ini buat kakek, yang ini buat ayah dan yang ini buat si thole (anak yang sebaya saya). Dari obrolan mereka dengan si koki saya tahu bahwa mereka cukup sering makan di situ dan sudah menjadi langganan.

Mengapa pada waktu menyajikan selalu dibeda-bedakan? Meskipun yang dipesan sama. Ini menjadi pertanyaan misteri dan membuat saya penasaran. Apakah ini yang menyebabkan warung ini selalu ramai dan bertahan terus turun-temurun dari generasi ke generasi? Pertanyaan itu belum terjawab sampai suatu ketika saya sudah besar berumur SMA dan saya diajak Bapak saya makan disitu. Saya sengaja memesan sama dengan yang dipesan Bapak saya, kali ini mie rebus….seperti biasa pada saat menyajikan, dibedakan mana yang untuk Bapak saya mana yang untuk saya. Ini saatnya saya mencari tahu…dengan minja ijin saya bilang ke Bapak “Pak…boleh ya saya ngicipi punya Bapak”, seperti biasa Bapak Saya mengijinkan. Kemudian Saya menyondok Mie rebus milik Bapak, sebelum memasukan ke mulut saya tiup beberapa kali karena panas. Setelah sesondok masuk ke mulut….’hmmmm enak sih…tapi menurutku kurang asin dan rasa manisnya juga tidak terlalu. Kemudian saya menyendok punya saya segera membandingkan, memang benar…mie rebus saya lebih terasa asin dan manisnya. Hmmmm…apakah ini rahasianya, pikirku.

Pada waktu pulang selesai makan di situ, saya nanya ke Bapak “menurut Bapak, apakah enak masakan tadi”. Bapak menjawab “ Iya enak, pas di lidah Bapak”. “Kok menurutku kurang asin dan kurang manis ya”, saya menimpali setengah bertanya. Kemudian beliau melanjutkan, “untuk orang seusia Bapak sudah tidak boleh terlalu asin dan terlalu manis, kalo terlalu asin bisa menyebabkan tekanan darah tinggi dan kebanyakan kecap manis. Makanya Bapak masih suka beli disitu”. Ooooo…inilah rahasianya…koki itu sangat memahami situasi dan kondisi setiap pelanggan, dan membuat customize sesuai dengan situasi setiap pelangganya. Dia terus mencari tahu dan update situsi setiap pelangganya dari waktu-kewaktu. Melalui obrolan-obrolan ringan dan pertanyaan-pertanyaan santai ternyata dia melakukan observasi dan mempelajari situasi. Hebat, kataku dalam hati. Maka dari itu…setiap pelangganya merasa cocok terus dari waktu-kewaktu. Meskipun situasinya berubah…masakan disitu bisa mengikuti situasi setiap pelanggannya. Makanya warung dan koki disitu saya sebut warung mie juara karena mempunyai koki juara yang tahu menyesuaikan situasi setiap pelangganya.

Nah…untuk menjadi juara kita harus berubah terus menyesuaikan situasi dunia. Karena dunia ini terus berubah, bukankah tidak ada kepastian di dunia ini, selain mati, dan ketidakpastian itu sendiri? Yang pasti adalah ketidakpastian. Maka dari itulah yang disebut dunia ini selalu berubah (ketidakpastian). Tidal terkecuali ekonomi dunia juga mengalami perubahan dari waktu kewaktu. Ini disebut Economic Evolution. Zaman sebelum tahun 1492 sampai tahun 1492, ekonomi digerakan oleh agraria/pertanian. Siapa yang menguasai tanah agraris yang subur merekalah juaranya. Setelah tahun 1492 sampai 1992, ekonomi digerakan oleh industri. Siapa yang mempunyai industri merekalah juaranya. Nah mulai tahun 1992 sampai sekarang ini ekonomi digerakan oleh knowledge, atau disebut juga Knowledge Based Economy (KBE). Siapa yang menguasahi knowledge lebih banyak, merekalah juaranya. Jadi jaman ini situasi ekonominya berbasis pada knowledge. Kita tahu tahun ini akan diberlakukan MEA Masyarakat Ekonomi Asean, yang akan membawa perubahan peta dan percaturan sumberdaya manusia di negara kita.Pertanyanya, untuk menjadi juara pada situasi ekonomi yang berbasis knowledge ini, apa yang akan Anda lakukan?

Ir.Ery Prasetyawan, PMP, SI CPM, M Par.

Trainer, Consultant, Business Coach

Hp: +62811904262

BB:53CB3B0D.

Email:eryp2000@gmail.com

www.eryprasetyawan.com

Tentang Penulis:

  • Pernah bekerja sebagai senior manajer di perusahaan multinasional selama lebih dari 17 tahun.
  • Pemilik Bisnis dan Komisaris Perusahaan.
  • Mengembangkan dan mendirikan Human Resources Empowerment Center: hr-empowerment.com .Master Trainer, Consultant Dan Business Coach.

International Certified Business Coach, Las Vegas, USA and Project Management Professional (PMP), Pensylvania, USA

  • Penulis Buku “From Debth To Millionaire” Dan “ 6 Ways To Become World Class Project Manager”.
  • Master Trainer di beberapa perusahaan Multinational dan Nasional. PT. Ericsson Indonesia, Ericsson Singapore, Ericsson Thailand, Ericsson Malaysia, PT. Telkomsel, PT. Pertamina, PT. Semen Padang, PT. Tunas Jaya Sanur, Departemen Pertaninan RI, dll

Efektif Selling Skill

Top Skill # 3: Marketing dan Sales.

www.hr-empowerment.com

Efektif Selling Skill

Sales

 Halo Anda, Semoga Anda Sehat dan Baik.

Setelah sekian lama tidak posting, karena sedang menulis dan menyelesaikan buku “6 Langkah Menjadi Project Manager Kelas Dunia”. Mohon maaf terlalu lama tidak posting.

Anda pasti sudah membaca posting saya terakhir mengenai Top Skill #3 tentang Marketing bukan?. Nah tentang salesnya belum, baru saya tulis kali ini.

Apa itu sales? Apa bedanya dengan marketing?

Sales adalah menjual dan menjual adalah menawarkan. Sales is Offering. Menawarkan. Ya…banyak orang membuat produk, membawa ke pasar/ke market, memajang, membawa ke pinggir jalan, tapi kurang laku…mengapa? Bisa jadi karena mereka tidak atau kurang menawarkan (sales) produknya. Coba bayangkan kita sudah mempunyai produk yang bagus, kita pajang ditempat bagus…kemudian kita diam saja tidak banyak menawarkan…maka jadinya ya kurang laku.

Dalam sales ada proses yang perlu diperhatikan dan dilakukan agar penjualanya efektif dan mencapai target/sasaran. Ada 4 proses dalam menjual, apa saja itu?

Inilah proses menujual yang hebat:

  1. Buidling Trust
  2. Building Need
  3. Give Solution
  4. Close The Sales.

Setelah tahu proses di atas kita bertanya bagaimana melakukanya?. Dibawah ini bagaimana melakukan 4 proses di atas.

  1. Buliding Trust.

Begini caranya membangun trust dalam menjual:

Dengan menggunakan teknik yang disebut verbal pacing dan leading. Berikut ini penjelasanya.

Verbal Pacing.

Adalah proses yang memampukan Anda untuk memengaruhi (membuat percaya ke Anda) orang dengan mudah yaitu dengan membuat pernyataan tentang fakta yang tidak dapat dibantah oleh orang yang Anda ajak komunikasi. Apa yang harus Anda katakan adalah mengatakan hal yang riil saat itu, sederhana dan riil. Dengan mengatakan yang Anda berdua menyetujui dan tidak dapat disangkal kebenaranya. Yang sudah pasti orang yang Anda ajak komunikasi menyetujuinya.

Untuk dapat melakukan pacing saat berkomunikasi/menjual dengan seseorang atau di muka umum, Anda harus mempunyai rencana komunikasi dan beberapa kali latihan. Tentu Anda tidak ingin mendapatkan penolakan dan ketidaksetujuan saat komunikasi yang membuat tujuan Anda tidak tercapai bukan? Unruk sukses memengaruhi orang Anda harus mendapatkan kata “Ya” dari lawan komunikasi Anda. Ini disebut dengan mengumakakan kebenaran. Contoh:

“ Anda sedang membaca buku/artikel saya saat ini”.

“Anda sedang membaca teknik memengaruhi orang lain”

“Anda sedang memahami teknik pacing”.

Ketiga statement tersebut adalah statement yang kebenaranya tidak dapat dibantah bukan?

Verbal Pacing di atas memiliki 4 manfaat, yaitu:

  1. Mendapatkan atau membuat keadaan perasaan positive dari lawan komunikasi Anda.
  2. Membuat lawan bicara Anda “connect” dengan Anda secara total, seketika.
  3. Mengarahkan lawan komunikasi Anda kepada tujua pembicaraan yang Anda inginkan.
  4. Membangun potensial respon yang meningkatkan kemungkinan mereka akan menyetujui apa yang akan Anda usulkan.

Verbal Leading.

Adalah memberikan saran yang mengarahkan pembicaraan mengalir ke dalam pikiran orang yang Anda ajak berkomunikasi. Teknik ini akan membawa dari keadaan masa lalu atau sekarang ke keadaan masa depan/yang Anda inginkan. Pada Verbal leading, Anda membuat saran yang berupa pernyataan yang Anda yakini itu benar. Atau apa yang dia yakini akan benar terjadi.

Sebagai pengingat, saran yang Anda berikan harus menggunakan kata “akan”.

Jika Anda menguasai teknik ini maka Anda akan dapat memengaruhi siapa saja dan kapan saja sesuai yang Anda inginkan. Anda akan mendapatkan persetujuan dengan mudah dan elegan. Verbal pacing dan leading ini tidak akan efektif jika dilakukan sekali saja dalam pembicaraan. Untuk berhasil memerlukan pattern dan formula. Untuk itulah Anda memerlukan strategy dan persiapan dan latihan menerapkan teknik ini. Strategy itu terdiri dari 3 langkah praktis:

Langkah 1: Mulailah mengetahui dan menuliskan tujuan yang hendak dicapai dalam komunikasi.

Langkah 2. Tulislah 3 paragraph selang seling antasa fakta dan saran dengan formula :

  • 3 fatkta diikuti 1 saran.
  • 2 fakta diikuti 1 saran.
  • 1 fakta diikuti 1 saran
  • ditutup dengan 3 saran.

Langkah 3. Latihlah mengucapkan ketiga paragraph yang sudah Anda tulis tersebut agar pada saat mengkomunikasikanya lancar dan berhasil seperti yang Anda inginkan. Bagaimana? Sederhana kan memengaruhi dan membuat orang trust ke Anda?

  1. Building Need.

Kita harus mengetahui kebutuhan-kebutuhan dasar manusia. Ada 2 macam kebutuhan manusia, yaitu primer dan sekunder. Kebutuhan primer itu terdiri dari:

  1. Kebutuhan menghindari kesengsaraan, porsinya 80% dari total kebutuhan.
  2. Kebutuhan mendapatkan kesenangan, porsinya 20% dari total kebutuhan.

Kemudian kebutuhan sekunder ada 6 yaitu:

  1. Kebutuhan akan Kepastian/nyaman aman
  2. Kebutuhan akan Ketidakpastian/variasi/hal baru
  3. Kebutuhan akan Hubungan/relationship
  4. Kebutuhan akan menjadi Signifikan/berbeda
  5. Kebutuhan akan keSamaan dengan orang lain
  6. Kebutuhan akan merasa Berarti bagi orang lain

Kebutuhan manusia, siapapun dia pasti brkisar akan kebutuhan itu. Nah pergunakanlah pengetahuan kebutuhan manusia ini untuk menjual produk Anda.

  1. Give Solution

Pastinya Anda sudah mempunyai produk sebagai solusi dari kebutuhan calon pembeli produk Anda di atas. Meskipun solusi sudah Anda tawarkan, bisa jadi calon pembeli belum tentu mau membeli itu karena Anda kurang meyakinkan dalam menawarkan. Nah untuk dapat meyakinkan dan mengubah calon pembeli menjadi pelanggan Anda perlu melakukan ini:

  1. Positioning Pribadi. Jadi Master. Konsultan. Salesman yang menguasasi profesi dan produk
  2. Pengetahuan Produk, jasa, ide
  3. Taktik penyampaian.
    1. Ultimate Advantage.
    2. Sensational Offer. Parkir Gratis, Diskon Seumur Hidup. Cover Plastik Tebal Gratis.
    3. Powerful Promise. Garansi, tukar gratis, dll.
  1. Close The Sale.

Nah langkah terakhir dalam menjual adalah get the deal atau close the sale. Begini caranya:

  1. Ya kecil baru Ya Besar (Pacing & Leading). Buatlah pertanyaan tertutup yang merupakan fakta dan jawabanya hanya “ya”
  2. Memberikan Limit Waktu pada penawaran Anda.
  3. Memberikan Hadiah dan Diskon. Hadiah selalu lebih baik dari diskon.
  4. Manfaatkan Fear dan Greed.
  5. Mahir Dalam Handling Objection. Objection biasanya Itu itu saja. Pergunakanlah Timbangan (Harga Vs Benefit).
    1. Harga mahal atau terlalu murah. ><. USP.
    2. Berpikir-pikir dulu. Pilah2….minat 1-10.

Selamat Mencoba, Semoga Anda Sukses Selalu.

Salam,

www.hr-empowerment.com

www.eryprasetyawan.com

 

 

Top Skill #3: Marketing Dan Sales.

Marketing

Mengapa Marketing dan Sales Ini Penting? Bayangkan sebuah bisnis tanpa marketing dan sales, apa jadinya? Ya…penjualan akan sangat kecil dan bisnisnya gulung tikar. Marketing dan sales adalah nyawanya sebuah bisnis. Tidak ada penjualan maka bisnisnya akan tutup. Maka marketing dan sales ini sangat penting sekali untuk sebuah bisnis.

Apakah penting untuk sebuah bisnis saja?…oh tidak! Hal ini berlaku untuk setiap orang yang mencari pekerjaan juga. Pada dasarnya setiap pencari pekerjaan harus bisa memasarkan dan menjual ASK-nya. Apa itu ASK, singkatan dari Abilities, Skills dan Knowledge. Demikian juga setiap karyawan dalam bekerja, setiap hari harus memasarkan dan menjual ASK nya supaya terus dipertahankan sebagai karyawan atau bahkan dipromosikan.

Nah…apa itu marketing. Singkatnya marketing adalah dari kata market + ing. Market berarti pasar, sedangkan + ing berarti usaha membawa. Membawa apa? Membawa produk ke pasar. Kemudian bagaimana caranya membawa produk kita ke pasar? Ada 5 Langkah yang harus dilakukan untuk dapat memasarkan produk kita.

  1. Membuat daftar calon pembeli produk kita. Yang harus kita ketahui pertama kali adalah siapa TSP untuk produk yang ingin kita pasarkan. Apa itu TSP, Targeting-Segmenting – Positioninng. Siapa saja calon pengguna yang menginginkan produk kita disebut target. Oh ya…perlu diketahui apa beda antara keinginan (want) – kebutuhan (need) – permintaan (demand)?.

Want atau keinginan adalah semua hal yang diinginkan oleh calon pembeli. Ini sangat luas dan banyak. Contoh, Saya ingin makan nasi rames, steak, soto, baso, gado-gado, tongseng dll. Padahal apa kebutuhan (need) saya? Saya hanya memubutuhkan sepiring nasi soto atau sepiring nasi rames atau sepiring nasi tongseng atau sepiring steak. Ya kebutuhanya hanya sepiring makanan. Coba…saya lihat dulu di dompet saya ada uang berapa. Yah…hanya ada uang goceng alias 5.000 rupiah….berarti demand saya atau kemampuan membeli saya adalah hanya 5.000 rupiah saja, maka saya hanya dapat semangkok Indomie + telor. Jadi demand adalah kemampuan membeli calon pelanggan kita.

Menetapkan semua calon pembeli hanya berdasarkan keinginan saja ini disebut targeting.

Menyeleksi calon pembeli berdasarkan apa kebutuhan mereka ini disebut segmenting.

Menganalisis dan observasi berapa kemampuan beli calon pembeli ini disebut positioning.

(Ada 73 cara atau taktik mencari siapa calon pembeli produk kita.)

  1. Mengetahui Berapa Conversion Rate, setelah tahu siapa saja calon pembeli kita dan membuat pengelompokan mereka berdasarkan targeting-segmenting dan positioning, langkah berikutnya adalah bagaimana mereka mengenal produk kita dan membelinya. Ya…kita harus berkomunikasi dan menawarkan kepada mereka. Jika ada yang membeli maka kita harus ukur secara prosentasi, yaitu berapa orang yang membeli dibagi total berapa orang yang sudah kita tawari dikali 100%. Ini dinamakan Conversion Rate. Contoh, kita menawarkan kepada 1.000 orang dan terjadi 100 pembelian. Maka konversi rate nya 100/1000 x 100% = 10%. Setelah tahu conversion rate nya kita bisa tahu bagaimana usaha meningkatkanya. Bagaimana caranya? Ada 3 cara, yaitu pertama dengan menaikan jumlah orang yang kita tawari, kedua menaikan skill kita dalam menawarkan. Ketiga adalah gabungan dari keduanya.

(Ada 83 taktik/cara membuat calon pembeli memutuskan membeli produk kita)

  1. Number Of Transaction. Setelah kita punya pelanggan kita harus selalu ukur berapa jumlah transaksi rata-rata yang dilakukan oleh pelanggan kita, setiap hari, setiap minggu, setiap bulan, setiap quarter, setiap semester dan setiap tahun. Setelah kita mengetahui jumlah transaksi setiap pelanggan, so what? Apa yang harus kita lakukan? Ya…mencari cara bagaimana menaikan jumlah transaksi dari setiap pelanggan kita.

(Ada 68 taktik/cara menaikan jumlah transaksi pelanggan kita)

  1. Average Sale. Rata-rata belanja rupiah pelanggan kita. Harus tahu berapa rata-rata rupiah yang dibelanjakan setiap pelanggan per minggu, per bulan, per quarter, per semester dan per tahunya. Dengan mengetahui statistik ini akan kita ketemukan cara bagaimana cara membuat pelanggan kita lebih banyak membelanjakan uangnya ke kita per bulanya.

(Ada 53 taktik/cara menaikan rata-rata belanja rupiah pelanggan kita)

  1. Menaikan Profit Margin. Kebanyakan orang takut menaikan profit marginya dengan cara menaikan harganya. Ketakutannya karena ditinggalkan pelanggan. Akan tetapi dengan strategi menaikan harga dengan alasan yang tepat sering akan lebih menguntungkan, net profit naik. Mungkin ada beberapa pelanggan yang mengurangi pembelian atau tidak menjadi pelangggan lagi. Nah keuntungan kita adalah net profit naik tapi jumlah pelanggan yang harus dikelola turun. Bukankah ini double untung?

(Ada 67 taktik/cara menaikan profit margin kita).

Total ada 344 cara Menaikan Penjualan Kita.

Berani Mencoba?

(Artikel tentang sales akan ditulis terpisah).

Semoga Bermanfaat.

Salam,

Ery Prasetyawan.

www.hr-empowerment.com

www.eryprasetyawan.com

*sumber: Brad Sugars.

Personality A la Jendral Helmut Von Moelke.

www.hr-empowerment.comPersonality

Beberapa psikolog dunia mencetuskan tipe-tipe perosonality manusia, yang membantu kita untuk menjadi sukses dalam berkomunikasi. Salah satunya Florence Littaeur dengan bukunya personality plus, membagi personality manusia menjadi 4, yaitu Kholeris, Sanguinis, Plegmatis dan Melankolis. Kemudian pembagian personality yang paling populer dan paling banyak dipakai di dunia saat ini yaitu DISC dicetuskan oleh William Moulton Marston. Mr. Martson juga membagi tipe manusia menjadi 4, yaitu Dominan, Influence, Steadiness dan Counciousness, disingkat DISC. Selanjutnya Myers dan Briggs dengan 16 tipe MBTI personalitinya.

Ada satu lagi yang menarik tentang personality ini, yang dikemukakan oleh seorag Jendral angkatan perang Jerman, yang bernama Helmut Von Moelke. Memang pembagian personality oleh Jendral ini tidak populer. Tidak banyak atau belum banyak yang mengetahuinya. Sebelum menyimak tentang tipe personalitinya, kita perlu tahu siapa Jendral Helmut Von Moelke ini. Menurut sejarahnya negara Jerman. Jendral ini termasuk salah satu Jendral besar dan sukses dalam karirnya.

Jendral Helmut Von Moleke dalam pekerjaanya sehari-hari sebagai jendral angkatan bersenjata dituntut untuk menghasilkan suatu yang hebat dalam waktu yang singkat. Pekerjaan ini memerlukan ketrampilan organisasi, manajemen dan leadership yang tinggi. Beratus bahkan beribu prajurit dari tingkat Letnan Jendral sampai prajurit paling bawah harus dikelola dengan sebaik mungkin untuk memenangkan peperangan dan menjaga negara.

Dengan latar belakang tuntutan seperti itu dan pengalaman nya memimpin angkatan bersenjata Jerman, beliau membagi personality anak buahnya menjadi 4 tipe sederhana. Tipe ini merupakan kombinasi dari sifat anak buahnya yang tentu dia sudah amati dan kenal dalam waktu cukup lama. Sifat yang dipakai hanyalah 2 saja, pertama: Rajin atau Malas. Kedua: Pandai atau Bodoh. Maka dari ke dua sifat itu ditemukalah 4 kombinasi yang sederhana sebagai berikut.

Tipe 1. Malas dan Bodoh.

Orang dengan tipe ini akan menyukai pekerjaan yang rutin, kecil dan mudah. Jika ditugasi ke pekerjaan yang sulit, komplek dan besar maka dia akan menyerah atau tidak akan mampu. Maka sang Jendral hanya memberikan tugas dan tanggung jawab kepada tipe ini untuk membersihkan senapan dan alat perang. Merawat serta menjaga persenjataan.

Tipe 2: Rajin dan Pandai.

Orang yang rajin dan pandai biasanya menyukai hal yang detail. Pekerjaan harus detail, laporan harus detail dan semua serba di detailkan. Karena merasa pandai, tipe ini juga suka hal-hal sulit dan komplek, karena kalau sulit dan komplek dia merasa dihargai dan diakui. Kalau tidak detail merasa belum ada hasil. Jika tidak detail merasa belum bekerja. Ada perasaan khawatir dan takut bagi tipe ini kalau pekerjaanya tidak detail, karena tidak nampak sulit. Maka saking takut dan kawatirnya dia mencari-cari dan mendetailkan hal atau pekerjaan yang sebenarnya sederhana. Bahkan sering membuat komplek hal yang sederhana, tipe ini tidak suka menyederhanakan hal yang komplek, malah sebaliknya mengkomplekan hal yang sederhana.

Maka dari itu Jendral itu membrikan tugas-tugas yang detail. perlu ketelitian dan analisis, namun tidak diberikan pekerjaan kepemimpinan untuk tipe ini.

Tipe 3: Rajin dan Bodoh.

Tipe ini orangnya sangat aktif, bahkan berlebihan sehingga kadang cenderung menjadi bumerang, dianggap sok tahu. Ya, memang karena pada dasarnya dia tidak pandai (bodoh) maka sering salah dalam menganalisis dan memutuskan. Orang tipe ini akan bahaya jika jadi pemimpin, karena jika keputusanya salah akan fatal dan sukar untuk diperbaiki. Maka Sang Jendral juga tidak mengkader tipe ini untuk menjadi pemimpin. Kebanyakan difungsikan untuk juru komunikasi/bicara.

Tipe 4. Malas dan Pandai.

Krena sifatnya yang pandai maka dia selalu proaktif dan pencari akal. Serta sifat malasnya sehingga dia menginginkan pekerjaan cepat selesai. Secepatnya supaya dia bisa punya banyak waktu untuk bermalasan. Dengan sifat itu maka setiap ada pekerjaan yang komplek dan membutuhkan waktu panjang, dia selalu mencari jalan yang paling sederhana dan singkat. Maka tipe ini selalu ingin menyederhanakan hal yang komplek dan menyelesaikan secepatnya (seefisien mungkin).

Maka Jendral itu memilih kader-kader pemimpin yang mempunyai sifat tipe 4 ini.

Ternyata semua penemu dan pemimpin sukses mempunyai sifat ini, karena malas berjalan maka ditemukanlah sepeda,motor dan mobil, karena malas perjalanan lama, maka ditemukanlah pesawat. Karena malas bekerja 20 jam sehari dengan mempunyai 10 toko, tapi ingin punya 100 lebih toko dan bisa hanya bekerja 4 jam sehari maka ditemukanlah sistem franchise.

Jika kita bertemu orang yang baru kita kenal, cukup mudah untuk mengenali personality nya melalui sistem DISC, apalagi kalau sudah mengenal lama. Apabila kita mempunyai teman atau sub ordinat yang bersama kita cukup lama, maka akan mengasyikan kalau kita bedah dengan tipe personality nya Jendral Jerman ini. Apakah mereka itu tipe 1, tipe 2, tipe 3 atau tipe 4? Dan apa tugas yang pas buat mereka di dalam organinasi yang kita pimpin?

Selamat mencoba, semoga bermanfaat.

Salam.

www.hr-empowerment.com

www.eryprasetyawan.com